foto bugilfoto telanjangsex area dewasavideo bokepcerita panas cerita panasFilm pornofoto panas reverse osmosisfilter air minumpabrik air minum Hacker indonesiaorang gantengcode security resep kulinerresep makananresep nusantara
 

Magister Ilmu Ternak Pasca Sarjana Universitas Diponegoro

Become an Excellence Research University

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Terakreditasi A  Berdasarkan SK BAN DIKTI Nomor. 004/BAN-PT/Ak-VII/S2/VI/2009  Tanggal 19 Juni 2009
Secretariat : Jl. Imam Bardjo, SH No. 3 Semarang, Central Java,Indonesia 50241; Telp./Fax.: +62248452091; Email : mit@undip.ac.id dan direkturmit@yahoo.com
Head of Study Program : Prof.Dr.Ir. SUMARSONO, MSSecretary of Study Program : Dr. LIMBANG KUSTIAWAN NUSWANTARA, S.Pt, MP

Diversifikasi Kambing PE

Surel Cetak PDF

Selama berpuluh tahun, beternak kambing peranakan ettawa (PE) di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, menjadi mata pencaharian ”warisan” yang prospektif dijalankan secara turun temurun. Namun, setelah terbiasa mendapatkan keuntungan dari penjualan ternak, maka masyarakat peternak saat ini mulai tergugah dan waspada.

Menghadapi kejenuhan pasar. Para peternak pun mulai melirik usaha diversifikasi usaha dengan mengambil susu kambing PE dan mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik.

Suroto, Kepala Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, mengatakan, keinginan peternak untuk melakukan diversifikasi usaha diwujudkan dengan membentuk klaster usaha.

Harapannya para pengurus klaster nanti akan bertanggung jawab mengatur tentang proses pengolahan dan pemasaran produk.

Klaster ini, menurut Suroto, akan dijalankan dengan serius. ”Sebelumnya, atas dukungan dari Dinas Kelautan, Peternakan, dan Perikanan, dua peternak juga sempat belajar tentang manajemen klaster kambing PE di Belanda,” ujarnya.

Saat ini, pengambilan susu kambing, dan pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk organik sudah dilakukan sebagian petani, namun tidak dikerjakan dengan serius.

Suroto mencontohkan pengambilan susu kambing misalnya, hanya dilakukan peternak saat ada pelanggan yang datang untuk membeli kambing dan sekaligus meminta susunya.

Tambahan penghasilan

Suroto mengatakan, selain untuk mengantisipasi kejenuhan pasar, diversifikasi usaha ini dilirik karena dapat memberikan tambahan penghasilan yang tidak sedikit.

Harga susu kambing PE di pasaran mencapai Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per liter, hampir tiga kali lipat dibanding susu sapi. Satu ekor kambing dapat memproduksi satu hingga tiga liter susu per hari.

Rusman, ketua kelompok tani Margo Mulyo, mengatakan, para peternak sebenarnya sudah berminat untuk memulai diversifikasi usaha. Kendatipun demikian, mereka masih terkendala minimnya pengetahuan tentang teknologi pengolahan susu dan pupuk.

”Saat ini, kami juga belum memiliki sarana yang memadai untuk melakukan kegiatan pengolahan tersebut,” ujarnya.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Kelautan, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Purworejo, M Riyanto, berharap ke depan petani dapat menyimpan kambing PE kualitas A untuk produksi bibit, dan kambing yang berkualitas di bawahnya, diambil dan diolah susunya.

”Setelah dikembangkan petani, dinas akan berupaya mendapatkan hak paten untuk susu kambing PE Kaligesing,” ujarnya.

Berdasarkan surat keputusan dari menteri pertanian, tahun ini, kambing PE telah ditetapkan sebagai plasma nutfah asli Kecamatan Kaligesing. Hak paten, dalam hal ini, hanya dapat ditetapkan untuk produk olahan dari kambing seperti susu.

Permintaan tinggi

Saat ini, permintaan kambing PE Kaligesing masih terbilang tinggi. Setiap bulan sekitar 800-900 ekor kambing PE dipasarkan keluar untuk memenuhi permintaan dari dalam dan luar Kabupaten Purworejo.

Selain dari daerah-daerah di Provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, banyak pula permintaan kambing PE dari luar Pulau Jawa, antara lain dari Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Untuk menjaga populasi kambing PE tersebut, Riyanto mengatakan, saat ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo tengah mengembangkan village breeding center (VBC) atau pusat pembibitan pedesaan di tujuh kecamatan di luar Kecamatan Kaligesing.

Total populasi kambing PE baik yang berada di dalam maupun di luar Kecamatan Kaligesing saat ini mencapai 63.000 ekor.

Riyanto mengatakan, keluar masuknya ternak kambing PE juga diatur ketat dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Purworejo Nomor 188.4/2267/1989 tentang pelestarian kambing PE.

SK bupati tersebut mengatur kambing kualitas A hanya boleh diperdagangkan tingkat antaranggota kelompok, kualitas B boleh diperdagangkan antarkelompok dalam satu kecamatan, dan kualitas C boleh dijual lintas kecamatan dalam Kabupaten Purworejo, dan kualitas D boleh dijual bebas.

 

Sumber :

KOMPAS, 20 Desember 2010

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 20 Desember 2010 11:16  
Kami punya 47 tamu online