Sholatul Ied at Wuhan, China

Rabu, 02 Desember 2009 19:58 sarix_kensa@yahoo.co.id
Cetak

Wuhan, China  “This gonna be our last Sholatul Ied in China" ucapan Babacar, teman kami dari Senegal, membuat saya terhenyak. Tanpa kami sadari waktu berjalan begitu cepat, kami semua berharap tahun depan kami sudah menyelesaikan studi kami di Cina dan kembali ke Indonesia (Amin).

Perayaan Idul Fitri dan Idul Adha di Wuhan, Cina terasa agak merepotkan bagi kami, disamping karena larangan untuk melakukan berbagai aktivitas agama kecuali di tempat yang telah ditunjuk oleh pemerintah setempat, juga adanya perbedaan kebiasaan antara Muslim Cina dan kami. Sholat Idul Adha kemarin, masjid untuk kalangan muslim Cina di kota ini tidak menerima jamaah wanita untuk melaksanakan sholat Ied, oleh karena itu seluruh mahasiswa asing yang beragama Islam kemudian mengorganisir tempat untuk melaksanakan sholat Ied bersama. Kami harus menyewa sebuah ruangan di suatu hotel seharga 3000 RMB (kurs 1 Desember 2009 1 RMB = Rp. 1400,- ).

Kami sangat merindukan berkumpul dengan keluarga, tak sedikit dari kami yang menangis haru karena teringat keluarga di rumah. Teman-teman sesama mahasiswa asinglah keluarga kami disini. Tak ada suara takbir berkumandang menyeru nama Allah. Tak ada pula tradisi potong hewan qurban, kalaupun kami makan daging kambing, itu kami makan di restoran muslim. Foto di bawah ini merupakan sebagian foto yang diambil pada saat perayaan Idul Adha di Wuhan, Cina 27 Nopember 2009 beberapa waktu yang lalu.

 

 

Angga Ardhati Rani Hapsari, S.PtPostgraduate Student of Animal Science College on Double Degree Program HAU (China) & UNDIP (Indonesia)

 
 

 

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 02 Desember 2009 23:42